katazikurasana30. Diberdayakan oleh Blogger.

Contoh Latar Belakang Masalah Proposal Tentang Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Pendekatan Scientific Pada Subtema Daur Air Di Sekolah Dasar


A.       Judul
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Pendekatan Scientific Pada Subtema Daur Air Di Sekolah Dasar

B.        Latar Belakang Masalah
Diterapkannya kurikulum baru, yaitu Kurikulum 2013 memberikan nuansa baru bagi dunia pendidikan Indonesia. Nuansa baru tersebut sangat terasa oleh guru dalam pembelajaran di kelas. Selain pembelajarannya yang tematik, dan pendekatannya yang scientific, guru juga harus mampu berkreasi dan berinovasi untuk memberikan hal-hal baru dan berbeda dari pembelajaran-pembelajaran sebelumnya, baik dalam model pembelajaran, metode, media, sumber belajar maupun penilaiannya.
Terkait dengan hal tersebut, Sukirman & Jumhana (2006:10) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan pembelajaran adalah proses aktivitas atau kegiatan siswa melalui interaksi dengan lingkungan, baik dengan guru maupun unsur-unsur pembelajaran lain untuk memperoleh perubahan tingkah laku.
Dalam proses pembelajaran, salah satu komponen terpenting yang dapat menunjang keberhasilan siswa dalam belajar adalah penggunaan bahan ajar yang dipilih dan dikembangkan guru. Bahan ajar yang sesuai dapat menunjang tercapainya tujuan pembelajaran atau kompetansi tertentu dengan cara menarik minat siswa, menstimulasi siswa, dan memotivasi siswa untuk lebih aktif dan giat dalam belajar melalu materi yang diberikan.
Sampai saat ini, bahan ajar yang paling banyak digunakan guru dalam proses pembelajaran adalah buku teks. Tidak sedikit materi dari buku tersebut yang tidak sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Karena isi buku teks yang beredar luas di pasaran tersebut disamakan untuk semua siswa di Indonesia, baik yang tinggal di daerah perkotaan, pedesaan, pegunungan, maupun yang ada di daerah pantai. Selain itu, bahan ajar yang berupa buku teks tersebut hanya mengutamakan hasil dan mengabaikan proses. Jadi, kemampuan akhir yang dimiliki siswa hanya sebatas pada aspek pengetahuan, yaitu menghapal. Hal ini sejalan dengan hasil observasi yang dilakukan peneliti pada tanggal 17 Desember 2013 di SDN 1 Cisadap Kecamatan Ciamis Kabupaten Ciamis.
Walinono (dalam Darmadi, 2009:47), mengungkapkan bahwa ada sepuluh kemampuan dasar yang harus dikuasai guru, salah satunya adalah kemampuan menyusun program pembelajaran. Dalam menyusun program pembelajaran, guru harus mampu memilih dan mengembangkan bahan ajar yang sesuai dan tepat untuk pencapaian hasil belajar. Namun, pada kenyataannya masih sedikit guru yang mampu memilih dan mengambangkan bahan ajar, sehingga pembelajaran masih bersifat konvesional, dan cenderung membosankan karena siswa hanya menjadi pendengar informasi dari guru. Merujuk dari itu, Mulyasa (2008:53), mengemukakan bahwa:
Tugas guru tidak hanya menyampaikan informasi kepada siswa, tetapi harus menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar (facilitate of learning) kepada seluruh siswa, agar mereka dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan, gembira, penuh semangat, tidak cemas, dan berani mengemukakan pendapat secara terbuka.
Berkenaan dengan buku teks yang setiap semester atau setiap tahun berganti buku, maka sangatlah penting jika guru mempunyai kompetensi dalam memilih dan mengembangkan bahan ajar yang dapat memudahkan siswa dalam belajar baik dengan bimbingan guru maupun ketika siswa belajar mandiri dan yang dapat membantu siswa mencapai ketuntasan belajarnya masing-masing.
Merujuk dari itu, dalam PP Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 20, guru diharapkan dapat mengembangkan materi pembelajaran, yang kemudian dipertegas melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses, yang mengatur tentang perencanaan proses pembelajaran yang mensyaratkan bagi pendidik pada satuan pendidikan untuk mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Salah satu elemen dalam RPP adalah sumber belajar. Dengan demikian, guru diharapkan untuk memilih dan mengembangkan bahan ajar sebagai salah satu sumber belajar.
Bahan ajar perlu dipilih dan dikembangkan supaya pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Jadi, tidak memerlukan waktu yang lama untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Bahan ajar yang dimaksud merupakan penjabaran materi pokok secara lengkap yang tertulis pada kurikulum atau silabus. Majid (2012:173), mengemukakan pengertian bahan ajar yaitu segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Dengan bahan ajar, siswa dapat mempelajari suatu kompetensi secara runtut dan sistematis dimana dan kapan saja baik secara individu maupun kelompok meskipun tanpa kehadiran guru.
Pada Kurikulum 2013, hanya kelas I dan IV yang sudah memiliki bahan ajar, maka peneliti tertarik untuk mengembangkan bahan ajar yang belum ada, yaitu di kelas V. Kurikulum 2013 mempunyai lima esensi yang harus dilaksanakan oleh guru yaitu pembelajaran tematik, pembelajaran kontekstual, pendidikan karakter, pendekatan scientific, dan penilaian autentik. Berkaitan dengan pendekatan scientific sebagai salah satu diantara kelima esensi Kurikulum 2013, pendekatan scientific disebut juga sebagai pendekatan ilmiah. Pendekatan ini meliputi kegiatan mengamati (observing), menanya (questioning), menalar (associating), mencoba (experimenting), dan membentuk jejaring (networking).
Maka dari itu, peneliti akan mengembangkan bahan ajar berbasis pendekatan scientific pada subtema daur air di Sekolah Dasar, sehingga dapat membantu guru dan siswa dalam pembelajaran dan memberikan pengalaman yang berharga yang sesuai dengan Kurikulum yang berlaku dan sesuai dengan kebutuhan guru dan siswa di lingkungannya.
0 Komentar untuk "Contoh Latar Belakang Masalah Proposal Tentang Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Pendekatan Scientific Pada Subtema Daur Air Di Sekolah Dasar "

Back To Top