katazikurasana30. Diberdayakan oleh Blogger.

Contoh Unsur Karangan dalam Proposal Bahasa Indonesia


Unsur Karang Mengarang
Berbicara mengenai karangan baik yang berupa karangan pendek  maupun panjang, maka kita harus berbicara  mengenai  beberapa hal atau masalah di sekitar karangan.
The Liang Gie (1992 : 17) mengemukakan ada 4 (empat) unsur dalam mengarang yaitu sebagai berikut :
      1)   Gagasan ( Idea )
Yaitu topik berikut tema yang diungkapkan secara tertulis.
      2)   Tuturan ( Discourse )
Yaitu bentuk pengungkapan gagasan sehingga dapat dipahami pembaca. Ada 4 (empat) bentuk mengarang :
a.   Pencarian (Narration )
Bentuk pengungkapan yang menyampaikan sesuatu peristiwa/pengalaman
b.   Pelukisan ( Description )
Bentuk pengungkapan yang menggambarkan pengindraan, perasaan mengarang tentang macam–macam hal yang berada  dalam  susunan ruang  ( misalnya  : pemandangan indah, lagu merdu, dll )
c.   Pemaparan ( Exposition )
Bentuk pengungkapan yang meyajikan secara fakta–fakta yang  bermaksud memberi penjelasan kepada pembaca mengenai suatu ide, persoalan, proses atau peralatan.
d.   Perbincangan ( Argumentation )
Bentuk pengungkapan dengan maksud menyalin pembaca agar mengubah pikiran, pendapat, atau sikapnya sesuai dengan yang dihadapi pengarang.
3)   Tatanan ( Organization )
Yaitu tertib pengaturan dan peyusunan gagasan mengindahkan berbagai asas, aturan, dan teknik sampai merencanakan rangka dan langkah .
4)   Wahana (Meduim )
Ialah sarana penghantar gagasan berupa bahasa tulis yang terutama menyangkut kosa kata, gramatika (tata bahasa), dan terotika (seni memkai bahasa secara efektif)

Tujuan Pengajaran Mengarang
Menurut Ngalim Purwanto, dan Djeniah Alim (1997 : 58) mengemukakan bahwa  tujuan pengajaran mengarang  sama  dengan tujuan pengajaran bercakap–  cakap hanya berbeda dengan bentuk tulisan, yaitu :
1.      Memperkaya pembendaharaan bahasa positif dan aktif
2.      Melatih melahirkan pikiran dan perasaan dengan tepat
3.      Latihan memaparkan pengalaman–pengalaman dengan tepat.
4.      Latihan–latihan penggunaan ejaan yang tepat (ingin menguasai bentuk bahasa).
Macam–Macam Karangan di SD
Macam–macam karangan yang dapat diajarkan di SD dapat dijelaskan sebagai berikut :
a.      Menurut Tingkatan
      1. Karangan permulaan (Kelas I dan II)
      2. Karangan sebenarnya (Karangan lanjutan) di kelas–kelas berikutnya.
b.      Menurut Isi/Bentuk
1.      Karangan Varslag (Laporan), Umumnya diberikan di kelas–kelas  rendah misalnya : Menceritakan kembali (secara tertulis) apa–apa yang dialami dalam pengajaran lingkungan.
2.      Karangan  Fantasi, Mengeluarkan isi jiwa sendiri (Ekspresi jiwa), misalnya : “Cita–citaku setelah tamat SD”. “Seandainya aku jadi raja”.
3.      Karangan Reproduksi, Umumnya bersipat menceritakan/ menguraikan suatau perkataan yang telah di pelajari atau di pahami, seperti  mengenal  ilmu–ilmu bumi, ilmu hayat, atau menulis dengan kata–kata sendiri apa yang telah dibaca dll.
4.      Karangan  Argumentasi, Karangan berdasarkan  alasan tertentu. Siswa dibiasakan  menyatakan pendapat  ataupun pikiranya  berdasarkan alas  an yang tepat.

c.       Menurut Susunannya
1)      Karangan Terikat
2)      Karangan Bebas
3)       Karangan setengah bebes terikat (Ngalim Purwanto dan Djeinah Alim, 1997 : 59)
Karangan Permulaan
Pendapat lama mengatakan mengajar mengarang itu baru diberikan di  kelas V sekolah rendah, karena syarat–syarat yang ditentukan untuk mengarang itu adalah berat. Seperti ejaan bahasa, susunan kalimat, isi, tanda baca, dan sebagainya. Sementara itu pendapat sekarang, “Mengarang“ itu semenjak di  kelas I (Satu) sudah mulai disisipkan (Mengarang Permulaan). Di kelas I (Satu) sudah dapat di mulai dengan menggambar bebas kemudian anak menulis beberapa kalimat tentang gambarnya.
Di kelas III  (Tiga) adalah lanjutan dari  kegiatan di atas. Cerita  tentang  gambar telah memakai judul, kalimat lebih banyak pada saat menceritakan tentang benda, hewan atau tanaman yang sesuai dengan lingkungan, anak telah menjelaskan sesuatu tentang benda. Mengarang dengan media gambar seri dapat mengembangkan  ide-ide siswa dalam membuat kalimat yang berhubungan dengan objek gambar dan biasanya anak menggunakan kata penghubung untuk membuat kalimat yang lebih banyak.
Di kelas V (lima) karangan anak lebih luas   dari  pada  kelas  III  (tiga). Anak dibiasakan  mengamati  lingkungan sekitarnya  (Pasar, Toko, Kantor Pos, Bank, Tempat pertunjukan dll) lebih rinci sehinga siswa kelas V (lima) telah dapat menuliskan berpuluh–puluh kalimat tentang sesuatu. Pada  saat  menceritakan gambar seri, siswa  kelas V (lima) lebih rinci menjelaskan setiap gambar.
Pengamatan gambar lebih rinci. Mulailah anak, menentukan pokok pikiran yang  mungkin akan menjadi  karangan–karangan. Hal  ini  lebih mudah dilatihkan melalui  mengarang dengan bentuk gambar seri. (Ngalim Purwanto, 1997 : 59).
Susunan Karangan
Susunan karangan atau wacana  sebagaimana  dikemukakan oleh Tarigan dan Sulistyaningsih (1996 : 362) adalah :
       “ Wacana  dibentuk oleh  paragraf– paragraf, sedangkan paragraf dibentuk oleh
kalimat–kalimat. Kalimat–kalimat yang membentuk paragraf itu haruslah merangkai, kalimat  yang  satu dengan kalimat  berikutnya harus  berkaitan begitu seterusnya. Sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh atau  membentuk sebuah gagasan. Selanjutnya paragraf dengan paragraf pun merangkai secara utuh membentuk sebuah wacana yang memiliki tema yang utuh “.

a.      Kata
Setiap gagasan pikiran atau perasaan dituliskan dalam kata–kata. Kata  adalah unsur kata yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam bahasa.
Untuk dapat  menyampaikan gagasan,  pikiran dan perasaan dalam  tulisan karangan. Seorang  perlu memiliki  pembendaharaan kata  yang memadai  dan pemilihan kata yang tepat. “Dalam memilih kata itu harus diberikan dua  persyaratan pokok yaitu (1) Ketepatan (2) Kesesuaian” (Suriamiharja et–al, 1996 : 25). Persyaratan ketepatan yaitu kata–kata yang dipilih harus secara tepat mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan sehingga pembaca juga dapat menafsirkan kata–kata tersebut tepat seperti maksud penulis.
Persyaratan kedua yaitu kesesuaian. Hal ini menyangkut kecocokan antara kata–kata yang dipakai dengan kesempatan/situasi dengan keadaan pembaca. Apakah pilihan kata dan gaya bahasa yang dipergunakan tidak merupakan suasana  atau tidak menyinggung perasaan orang yang hadir.
b.      Kalimat
Kalimat terbentuk dari gabungan anak kalimat, sedangkan anak kalimat  adalah gabungan dari ungkapan atau frase, dan ungkapan itu sendiri merupakan rangkaian dari kata–kata . Kalimat yang dipergunakan dalam karangan berupa  kalimat  yang  efektif yaitu kalimat yang benar dan jelas sehinga mudah dipahami orang lain. Sebuah kalimat efektif haruslah memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan pada pikiran pandangan atau pembaca  seperti  apa  yang  terdapat  pada  pikiran penulis  atau pembaca.
Suryamiharja et-al (1996 : 38), Mangemukakan bahwa : Kalimat efektif dalam bahasa tulis, haruslah memiliki unsur – unsur :
1        Dapat mewakili gagasan penulis
2        Sanggup menciptakan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pembaca  seperti yang dipikirkan penulis.
c.       Paragraf
Paragraf adalah satu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat : paragraf merupakan kumpulan kalimat yang  berkaitan dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan, Berkaitan dengan paragraph, Akhadiah, dkk (dalam Agus Suryamiharja, 1996 : 46), Menjelaskan bahwa “dalam paragraph terkandung satu unit buah pikiran yang didukung oleh semua kalimat utama atau kalimat topik, kalimat penjelas sampai kalimat penutup”.
Fungsi dari paragraf dalam karangan adalah :
a)      Sebagai penampung dari sebagian kecil jalan pikiran atau ide keseluruhan karangan.
b)      Memudahkan pemahaman jalan pikiran atau ide pokok karangan. (Tarigan, 1996 : 48). Menurut Suriamiharja (1996 : 48) “Paragraf baik dan efektif harus memenuhi tiga parsyaratan, yaitu (1) Kohesi  (Kesatuan) ; (2) Koherensi  (Kepaduan) ;  dan (3) Pengembangan/Kelengkapan paragraph”.
1.      Kohesi (Kesatuan)
Keraf (dalam Suriamiharja 1996 : 48) mengemukakan bahwa “yang dimaksud dengan kohesi/kesatuan dalam paragraf adalah semua kalimat yang membina paragraf secara bersama–sama menyatakan satu hal, satu tema tertentu”.
2.      Koherensi (Kepaduan)
Keraf (Suriamiharja  1996  :  48)  mengemukakan bahwa  “yang dimaksed dengan koherensi/keterpaduan dalam paragraf adalah kekompakan hubungan antar  sebuah kalimat dengan kalimat yang lain yang membentuk paragraf itu”.
3.      Pengembangan/Kelengkapan paragraf
Keraf (dalam Suriamiharja 1966 : 50), mengemukakan bahwa  “pengembangan paragraf adalah penyusunan atau perincian dari gagasan–gagasan yang  membina paragraf itu”,
Suatu paragraf dikatakan berkembang atau lengkap jika kalimat topik atau kalimat utama dikembangkan atau dijelaskan dengan cara menjabarkannya  dalam  bentuk–bentuk kongkrit, dapat dengan cara pemaparan dan pemberian contoh, penganalisaan dan nilai–nilai.
Media Pembelajaran
Pengertian Media Pembelajaran
Kata “Media” secara harpiah adalah “perantara atau pengantar”. Pengertian media sebagai sumber belajar adalah “Manusia, benda, ataupun peristiwa yang memungkinkan anak didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan” (Djamarah dan Zein, 1996 : 136).
Penggunaan media dalam proses belajar mengajar sangat penting. Ketidak jelasan guru dalam menyampaikan bahan pengajaran dapat terwakili dengan kehadiran media. Apabila  tingkatan SD  yang  siswanya  belum  mampu berfikir abstrak, masih berfikir kongrit. Keabstrakan bahan  pelajaran dapat  dikongritkan dengan kehadiran media, sehinga anak didik lebih mudah mencerna bahan pelajaran daripada tanpa bantuan media.
Dalam penggunaan media, perlu diperhatikan bahwa pemilihan media pengajaran haruslah jelas dengan tujuan pengajaran yang telah dirumuskan, apabila diabaikan media pengajaran bukannya membantu proses belajar mengajar, tapi sebagai penghambat dalam pencapaian tujuan secara efektif dan efesien.
Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan, membantu mempertegas  bahan pelajaran,  sehingga  dapat  merangsang  pikiran, perasaan, perhatian dan  minat  siswa dalam proses belajar. 

Untuk melanjutkan Proposal Tentang Meningkatkan Kemampuan Siswa Dalam Menulis KaranganDeskripsi Melalui Media Gambar Seri Silahkan --- KLIK DISINI ---
Tag : Proposal
0 Komentar untuk "Contoh Unsur Karangan dalam Proposal Bahasa Indonesia"

Back To Top